BOGOR - Perguruan tinggi bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan garda terdepan yang krusial dalam memperkokoh benteng pertahanan bangsa. Melalui denyut nadi pendidikan, riset mutakhir, inovasi teknologi terdepan, pengabdian tulus kepada masyarakat, serta jalinan kerja sama lintas sektor, kampus-kampus di Indonesia mampu melahirkan dampak nyata yang tak ternilai bagi kedaulatan negara. Ini adalah sebuah sinergi yang selaras sempurna dengan semangat pertahanan semesta, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Dalam panorama pertahanan semesta yang luas, tugas menjaga keutuhan negara tak lagi hanya dipikul oleh Tentara Nasional Indonesia sebagai pewira utama. Komponen cadangan dan pendukung pun turut ambil bagian, dan di sinilah perguruan tinggi menunjukkan perannya sebagai komponen pendukung yang tak tergantikan. Pengembangan talenta unggul, penelitian strategis yang menjawab tantangan zaman, penguatan nilai-nilai bela negara di kalangan generasi muda, serta dukungan penuh bagi kemandirian industri pertahanan nasional adalah beberapa kontribusi emas yang dilahirkan dari rahim kampus.
“Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengetahuan, inovasi, dan penguatan kapasitas bangsa. Dalam konteks pertahanan modern, kampus dapat menjadi mitra strategis negara dalam menyiapkan talenta, teknologi, dan kebijakan berbasis bukti, ” ujar Mayor Jenderal TNI Kosasih, SE., MM., Panglima Komando Daerah Militer (KODAM) III/Siliwangi dalam Seminar Nasional dengan Tema “Dedikasi dan Intelektualitas Pakuan Siliwangi: Bersinergi Membangun Negeri” di Universitas Pakuan Bogor, Rabu (06/05/2026).
Landasan hukum yang kokoh turut mempertegas peran vital perguruan tinggi. Selain UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, keberadaan UU No. 3 Tahun 2025 tentang Tentara Nasional Indonesia, UU No. 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan yang menekankan alih teknologi dan kandungan lokal, serta UU No. 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara, semuanya membuka pintu lebar bagi sinergi kemitraan.
Tak lupa, UU No. 3 Tahun 2023 tentang Pengesahan Perjanjian Pertahanan Republik Indonesia - Singapura menyoroti pentingnya kolaborasi internasional dalam berbagai aspek, termasuk pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kolaborasi yang Menghasilkan Buah Manis
Kemitraan di bidang pertahanan yang melibatkan perguruan tinggi sejatinya harus melampaui sekadar seremoni penandatanganan nota kesepahaman. Impiannya adalah terwujudnya program-program nyata, terukur, dan berkelanjutan yang memberikan manfaat riil bagi bangsa.
Beberapa bentuk kolaborasi berdampak yang dapat diwujudkan antara lain:
Pertama, penciptaan kurikulum bersama di bidang pertahanan dan keamanan nasional. Ini bisa berupa pengembangan mata kuliah atau sertifikat kompetensi yang relevan dengan bela negara, keamanan siber, geopolitik, literasi disinformasi, manajemen krisis, dan ketahanan wilayah, bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan, TNI, BSSN, BRIN, pemerintah daerah, dan industri pertahanan.
Kedua, dorongan riset terapan untuk menjawab ancaman nonmiliter. Kampus dapat menjadi pelopor dalam pengembangan sistem deteksi dini ancaman siber, pemetaan disinformasi, sistem komunikasi darurat, teknologi mitigasi bencana, dan pemetaan risiko wilayah strategis.
Ketiga, pembentukan laboratorium bersama untuk teknologi pertahanan. Perguruan tinggi teknik dan sains, bersama dengan industri pertahanan, dapat berkolaborasi dalam mengembangkan drone, sensor, radar, sistem nirawak, material maju, teknologi maritim, dan sistem logistik pertahanan.
Keempat, fasilitasi program alih teknologi dan peningkatan kandungan lokal. Dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari luar negeri, perguruan tinggi dapat berperan sebagai pendamping akademik, penyusun peta jalan teknologi, pelatih tenaga ahli, pelaksana riset lanjutan, serta evaluator kandungan lokal, sesuai amanat UU No. 16 Tahun 2012.
Kelima, penyelenggaraan program magang bagi talenta pertahanan nasional. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknik, informatika, hubungan internasional, hukum, manajemen, psikologi, komunikasi, hingga kesehatan, dapat merasakan pengalaman praktis melalui magang terstruktur di industri pertahanan, lembaga riset, Kementerian Pertahanan, maupun satuan terkait.
Keenam, pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang berfokus pada ketahanan wilayah dan bela negara. Mahasiswa dapat diterjunkan ke wilayah perbatasan, pesisir, daerah rawan bencana, dan kawasan strategis untuk memberikan kontribusi nyata melalui literasi digital, pemetaan potensi wilayah, mitigasi bencana, penguatan ekonomi lokal, dan edukasi bela negara.
Ketujuh, pengembangan pusat kajian operasi militer selain perang. Kampus dapat menjadi mitra strategis TNI dalam penanggulangan bencana, bantuan kemanusiaan, pengamanan wilayah perbatasan, pemberdayaan wilayah pertahanan, dan penguatan ketahanan masyarakat melalui kajian mendalam, pelatihan, serta penyediaan teknologi tepat guna.
Perguruan Tinggi: Jantung Kemitraan Strategis Negara
Model kolaborasi yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, industri, TNI/Polri, lembaga riset, masyarakat, dan mitra internasional dinilai sebagai kunci utama untuk mengukuhkan kemandirian pertahanan nasional. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Triple Helix dan Quintuple Helix, yang mengedepankan sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, masyarakat, dan lingkungan strategis demi memacu inovasi.
“Kolaborasi pertahanan berdampak harus memiliki indikator yang jelas, seperti jumlah riset terapan, prototipe teknologi, mahasiswa tersertifikasi, paten, policy brief, peningkatan kandungan lokal, serta program pengabdian masyarakat yang benar-benar dirasakan manfaatnya, ” tambah Pangdam.
Dengan merangkul lebih erat peran perguruan tinggi, Indonesia bertekad membangun sumber daya pertahanan nasional yang tidak hanya adaptif dan inovatif, tetapi juga mandiri dan berkelanjutan. Kampus menjadi jembatan emas yang menghubungkan kebutuhan pertahanan negara, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi setiap ancaman, baik yang bersifat militer maupun nonmiliter.
Kodam III/Siliwangi melalui berbagai komitmennya bertekad memperkuat sumber daya pertahanan nasional. Fokusnya jelas: pada pendidikan, penelitian, inovasi, pengabdian masyarakat, dan jalinan kerja sama lintas sektor. Program-program ini dirancang khusus untuk mengukuhkan peran perguruan tinggi dalam sistem pertahanan semesta, memajukan kemandirian industri pertahanan, serta mencetak talenta strategis bangsa yang mumpuni.
Acara Seminar Nasional di Universitas Pakuan, Bogor, ini turut dihadiri oleh Rektor Universitas Pakuan (UNPAK), Prof. Dr. rer. pol. Ir. H. Didik Notosudjono, M.Sc; Kepala LPPM Universitas Pertahanan Nasional (UNHAN), Mayor Jenderal TNI Yudha Risniawan; Komandan Korem 061/Suryakancana, Brigadir Jenderal TNI Thomas Rajunio, S.I.P., B.S., M.Tr.(Han.); para Dandim jajaran; Civitas Akademika Universitas Pakuan Bogor; serta para undangan yang turut memeriahkan suasana. (PERS)

Updates.